Sepatu semi boot

Sore itu tidak seperti biasanya. Sore itu sedikit mendung dan sunyi. Tiba-tiba dia masuk keruanganku seperti biasa pinjam kunci. Akupun dengan biasa juga mempersilahkannya. Tapi ada yang beda dari biasanya. Dia mengajakku ikut serta keruangan itu. Aku kaget. Benar-benar kaget. Kenapa seperti dejavu. Malamnya aku sempat bermimpi kalau dia menginterviewku untuk kedua kalinya. Apa ini benar-benar terjadi. Aku menolak. Aku takut diusilin. Jangan-jangan aku mau dikunci diruangan itu. Pikiranku tidak tenang. Tapi dia meyakinkanku. Ada yang benar-benar harus dibicarakan. Nadanya terdengar begitu serius. Aku pun mulai serius. Kami duduk berhadapan. Sama seperti pelamar dan trainer. Dia tampak bingung akan memulai dari mana. Wajahnya pucat.
Dia terlihat seperti menelan sesuatu hingga tak sanggup lagi untuk berbicara. Akupun berusaha untuk meyakinkan dia untuk mengungkapkan apa yang akan disampaikannya. Sampai akhirnya dengan sangat perlahan -lahan Ia menjelaskan maksud dari pembicaraannya. "Kir, jadi besok itu ada orang Hrd baru." katanya. "Ehem, terus." sahutku. "Dan orang HRD itu yang bakalan gantiin aku disini." ungkapnya. Aku tidak percaya ini. Rasanya mataku memanas. Pipiku memerah seakan mau meletus. Aku bahkan takut berbicara lebih dalam. Aku takut tidak bisa menahan emosiku. Tapi tetap saja aku menangis. Aku tak kuasa menahan air mataku. Dia teman baikku. Kita suka sholat berjamaah, makan siang bareng, trus suka ngomongin orang yang gak kita suka bareng. Aku suka dengan sifatnya yang tegas. Jujur mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Dan modis. Pertama kali aku bertemu dengannya aku sudah kagum. HRD mana yang pakai sepatu semi boot saat interview pelamar. Dia begitu muda dan berbakat. Dia juga dengan cepat dapet menilai orang.
Dia sosok yang tegas, aku ingin seperti dia.
Rasanya seperti ada yang hilang. Aku jarang punya teman baik di kantor. Dan harus kehilangan salah satu yang terbaik dengan jenis kelamin yang sama. Karena sekedar informasi temen seruanganku semua cowok.
Tapi sejenak aku berpikir kembali, aku tidak boleh egois dengan perasaanku sendiri. Ada sebab kenapa seseorang ingin keluar dari suatu tempat yang terlihat begitu nyaman. Kita tidak pernah tau bagaimana mereka menahan rasa kesakitannya setiap hari dan setiap waktu. Ini adalah yang terbaik. Semua akan menjadi lebih baik.
Akupun tidak ingin terlalu lama disini. Karena aku harus move. Bekerja tanpa diatur dan dipaksa. Mengerjakan apa yang aku suka.
Selamat berjuang mbak nii... Semoga lebih sukses diluar sana. Ini bukan yang terakhir kan. Kita masih bisa berkumpul bersama menatap langit yang indah.
Gak akan ada lagi rumpi-rumpi hangatmu. Dan gak ada lagi HRD dengan sepatu semi boot.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Napak Tilas 25 Tahun

Omg

RAIN